Laporan Praktikum Genetika 1 : Barrbody dan Drumstick

BAB I

PENDAHULUAN

 

  • Latar Belakang

Makhluk hidup memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan benda tak hidup. Salah satu ciri makhluk hidup dari sekian banyak ciri adalah berkembang biak atau reproduksi. Sebagaimana telah diketahui, terdapat dua jenis reproduksi pada makhluk hidup, salah satunya adalah reproduksi seksual atau reproduksi yang melibatkan organisme jantan dan betina. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Quran Surah An-Najm Ayat 45 sebagai berikut :

“Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.”

Jalalain (2010) menyatakan bahwasanya lafadz “Azzaujain” dari “Wa Annahu Kholaqoz Zaujain” bermakna kedua jenis yang berpasangan, yakni laki-laki dan perempuan. Lebih lanjut, Shihab (2002) menyatakan bahwasanya Ayat ini menunjukkan kemahakuasaan Allah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan pada manusia dan jantan-betina pada hewan-hewan dari sperma yang dikeluarkan secara bersamaan oleh laki-laki dan perempuan.

Berdasarkan pada penjelasan ayat di atas, dapat diketahui bahwasanya Allah menciptakan dua individu yang berbeda, baik pada bentuk tubuh, sifat, dan lain sebagainya. Individu-individu tersebut adalah laki-laki dan perempuan pada manusia serta jantan dan betina pada hewan. Salah satu perbedaan-perbedaan tersebut dapat diketahui berdasarkan pada kajian ilmu genetika. Metode penentuan jenis kelamin tersebut dapat di dasarkan pada prinsip barr body yang terdapat pada sel epitelium dan drumstick pada sel darah putih neurotrophil.

 

  • Tujuan

Tujuan dilaksanakannya praktikum yang berjudul “Penentuan Jenis Kelamin” adalah untuk :

  1. Menetapkan jenis kelamin
  2. Mengidentifikasi barr body dan drumstick dengan uji seks kromatin.

 

  • Manfaat

Manfaat dilaksanakannya praktikum adalah dapat mengetahui penentuan jenis kelamin berdasarkan pada ada tidaknya barr body dan berdasarkan pada drumstick pada neurotrophil. Pengetahuan ini sangat bermanfaat dalam bidang kajian forensik, yang mana dengan mengetahui akan hal-hal tersebut di atas dapat melekukan penentuan jenis kelamin pada korban pembunuhan maupun kecelakaan yang kondisi jasadnya mengalami kerusakan. Selain itu, dapat pula diketahui potensi lain yang belum dipelajari pada praktikum ini sehingga dapat meningkatkan kualitas iman dan takwa akan tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

METODE PRAKTIKUM

 

2.1. Waktu dan Tempat

Praktikum yang berjudul “Penentuan Jenis Kelamin” dilaksanakan pada Hari Selasa, 2 Mei 2017 pada Pukul 12.20 WIB hingga 14.00 WIB. Tempat dilaksanakannya praktikum adalah Laboratorium Pendidikan Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

 

2.2. Alat dan Bahan

2.2.1. Alat

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum yang berjudul “Penentuan Jenis Kelamin” adalah :

  1. Mikroskop Binokuler 1 buah
  2. Tusuk gigi secukupnya
  3. Gelas objek 1 buah
  4. Deck glass 1 buah
  5. Tisu secukupnya
  6. Disposible lancet 1 buah
  7. Staining jar 1 buah

 

            2.2.2. Bahan

Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam praktikum yang berjudul “Penentuan Jenis Kelamin” adalah :

  1. Apusan epitel rongga mulut secukupnya
  2. Sampel darah secukupnya
  3. Methilen blue secukupnya
  4. Pewarna giemsa secukupnya
  5. Aquades secukupnya
  6. Metanol 95% secukupnya
  7. Alkohol 70% secukupnya

 

 

 

 

 

  • Cara Kerja
    • Barr Body

Cara kerja yang dilakukan pada pengamatan dan identifikasi barr body adalah :

  1. Diambil lapisan mukosa mulut dengan tusuk gig, kemudian dioleskan pada gelas objek, lalu dikeringkan.
  2. Dicelupkan preparat ke dalam staining jar berisi larutan fiksatif (metanol absolut) selama 5 menit.
  3. Diteteskan pewarna methilen blue, dibiarkan selama 3-5 menit, kemudian dicuci dengan air mengalir, lalu dikering anginkan.
  4. Diamati preparat menggunakan mikroskop.
  5. Digambarkan hasil pengamatan.
  6. Dibandingkan hasil pengamatan preparat antara laki-laki dengan perempuan.
  7. Dihitung barr body.

 

  • Drumstick

            Cara kerja yang dilakukan pada pengamatan dan identifikasi drumstick

adalah :

  1. Dioleskan alkohol 70 % pada bagian yang akan diambil darahnya.
  2. Diambil darah dari vena perifer dengan disposable lancet.
  3. Diteteskan darah ke gelas objek dan diratakan hingga tipis dengan gelas objek lain, dikering anginkan.
  4. Dicelupkan preparat ke dalam staining jar berisi larutan fiksatif selama 5 menit.
  5. Diteteskan pewarna giemsa dalam buffer fosfat pH 6, dibiarkan selama 15-30 menit dicuci preparat dengan air mengalir dan dikering anginkan.
  6. Diamati menggunakan mikroskop.
  7. Digambar sel yang mengandung inti berbentuk drumstick.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  • Hasil
    • Barr Body I
Sel Epitel Laki-laki Sel Epitel Perempuan
 

Perbesaran 100 kali

 

 

Perbesaran 100 kali

 

  • Barr Body II
Sel Epitel Laki-laki Sel Epitel Perempuan
 

Perbesaran 100 kali

 

 

Perbesaran 100 kali

 

 

 

 

  • Barr Body II
Sel Epitel Laki-laki Sel Epitel Perempuan
 

Perbesaran 100 kali

 

 

Perbesaran 100 kali

 

  • Drumstick I
Sel Neutrophil Laki-laki Sel Neutrophil Perempuan
 

Perbesaran 100 kali

 

 

Perbesran 100 kali

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Drumstick II
Sel Neutrophil Laki-laki Sel Neutrophil Perempuan
 

Perbesaran 100 kali

 

 

Perbesaran 100 kali

 

  • Drumstick III
Sel Neutrophil Laki-laki Sel Neutrophil Perempuan
 

Perbesaran 100 kali

 

 

Perbesaran 100 kali

 

  • Pembahasan
    • Barr Body

Penentuan jenis kelamin dari suatu individu dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti melalui pengamatan histologis ada tidaknya barr body, identifikasi gen amelogenin DNA, maupun pengamatan drumstick pada neklues neutrophil. Menurut Galdames (2011), penentuan jenis kelamin merupakan salah satu kunci dalam proses identifikasi. Lebih lanjut, Eboh (2012) menyatakan bahwasanya Identifikasi jenis kelamin merupakan langkah pertama yang penting dilakukan dalam proses identifikasi forensik karena dapat menentukan 50% probabilitas kecocokan dalam identifikasi individu serta dapat mempengaruhi beberapa metode pemeriksaan lainnya, seperti estimasi usia dan tinggi tubuh individu.

Metode penentuan jenis kelamin yang akan dibahas dalam sub-bab ini adalah metode pengamatan histologis ada tidaknya barr body. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai barr body, perlu diketahui bahwasanya barr body merupakan sisa kromosom X yang mengalami inaktivasi pada saat proses perkembangan. Hal ini mengacu pada pernyataan Meena (2016), yang menyatakan bahwasanya barr body merupakan kromosom X yang dibentuk dari inaktivasi secara acak dan kondensasi salah satu dari dua kromosom betina yang pada hakekatnya terdapat pada sel-sel somatik mamalia betina. Menurut Syafitri (2013), barr body merupakan suatu gambaran badan kecil yang dapat menimbulkan bintik berwarna dengan pewarnaan inti sel. Sementara itu, mengacu pada hasil pengamatan yang telah dilakukan, pewarnaan pada apusan epitel rongga mulut perempuan, baik barr body maupun inti sel menunjukkan warna yang lebih gelap dibanding dengan bagian sel lainnya. Hal ini dikarenakan adanya kondensasi kromosom pada kedua bagian tersebut sebagaimana telah disinggung sebelumnya sehingga zat warna yang diserap lebih banyak daripada bagian sel lainnya. Hal ini dipertegas oleh Verma (2017), yang menyatakan bahwasanya massa kromatin seks terlihat berwarna kegelapan pada nukleus sel yang tidak mengalami pembelahan pada genotipe perempuan  oleh adanya heterokromatin dari kromosom X yang tidak aktif.

Berdasarkan pada hasil pengamatan, barr body hanya dapat dijumpai pada sel epitel rongga mulut perempuan dan tidak demikian dengan sel epitel laki-laki, sehingga dapat disimpulkan bahwa barr body merupakan kromatin seks yang terkondensasi sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Lebih lanjut, hasil pengamatan tersebut menunjukkan adanya satu buah barr bodi pada masing-masing sampel epitel rongga mulut tiga orang perempuan yang berbeda.  Hal ini dapat diterangkan berdasarkan pada hipotesis Lyon yang meninjau fenomena tersebut berdasarkan pada asal muasal barr body tersebut. Menurut Suryo (2011), pada orang normal, banyaknya seks kromatin dalam sebuah sel adalah sama dengan jumlah kromosom X dikurangi dengan satu. Syafitri (2013), menyatakan bahwasanya barr body dapat ditemukan pada sekitar 40% sel wanita. Lebih lanjut, Elrod (2007), menyatakan bahwasanya pada wanita normal akan memiliki barr body pada inti sel karena memiliki dua kromosom X, sedangkan pada pria tidak memiliki barr body karena kromatin X-nya hanya satu.

Mengacu pada pernyataan-pernyataan di atas, dapat diketahui bahwasanya keenam sukarelawan tersebut baik laki-laki maupun perempuan merupakan orang-orang yang normal. Hal ini dikarenakan pada praktikan laki-laki tidak ditemukan adanya barr body yang merupakan kondensasi dari kromosom X yang terinaktivasi. Berdasarkan pada penjelasan di atas, bahwasanya jumlah barr body merupakan jumlah kromosom X dikurangi satu, karena ketiga praktikan laki-laki tersebut tidak memiliki barr body, dapat dipastikan bahwa kromosom seks pada praktikan tersebut terdiri dari X dan Y. Sementara itu, pada ketiga praktikan perempuan masing-masing memiliki satu buah barr body, sehingga dapat dipastikan bahwasanya kromosom seks pada praktikan tersebut adalah XX.

Hal yang tidak kalah penting dalam laporan ini, perlu diketahui pula mengenai mekanisme terbentuknya barr body. Mekanisme inaktivasi pada salah satu kromosom X wanita tersebut sehingga membentuk barr body tersimpan dalam X-Chromosome Inactivation (XCI) yang mengarahkan proses pemberhentian transkripsi pada salah satu dari dua kromosom X selama awal perkembangan. Menurut Chaligne (2014), XCI banyak memfasilitasi mekanisme epigenetik lainnya seperti fenotipe mosaik seluler, inaktivasi kromosom X, dan menggabungkan beberapa mekanisme epigenetik termasuk menyelenggarakan methylisasi DNA, modifikasi histon post-transisional, dan mengatur hal-hal yang tidak biasa pada inti. Lebih lanjut, berdasarkan pada hasil studinya, Avner (2001) menjelaskan bahwasanya inisiasi inaktivasi X terjadi pada lokus X-Inactivation Centre (Xis). Gen khusus yang mengatur proses inaktivasi kromosom X tersebut adalah non-coding RNA Xist. Xist terdiri dari 17.000 nukleotida (19 kb pada manusia), yang bersambungan, menyebabkan tidak terekspresikannya kromosom X dari cis oleh karena tertutupi oleh Xist.

 

  • Drumstick

Salah satu cara yang dapat digunakan dalam menentukan dan menganalisis jenis kelamin adalah dengan menggunakan metode pengamatan drumstick. Penentuan jenis kelamin dengan menggunakan metode ini memiliki akurasi yang cukup tinggi, namun perlu juga memerhatikan beberapa faktor yang dapat memengaruhi hasil pemeriksaan. Sebelumnya, perlu diketahui lebih lanjut mengenai drumstick itu sendiri. Menurut Tupakula (2014), drumstick terdiri dari massa kecil inti dengan diameter sekitar 1,5µ, melekat pada tubuh nukleus dengan rata-rata variasi batang tipis dan kejadian drumstick bervariasi antara 1% sampai 17% dengan rata-rata 2,9%. Drumstick, sebagaimana telah dibuktikan dalam praktikum, terdapat pada bagian inti sel darah putih neutrophil. Metode yang demikian dikenal sebagai leukosit tes yang pertama kali diperkenalkan oleh Davidson dan Smith pada tahun 1954. Menurut Verma (2017), leukosit tes ditujukan untuk mendiagnosis seks kromatin berdasarkan pada identifikasi informasi khusus dalam inti.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, drumstick merupakan suatu tambahan pada nukleus netrophil yang dipisahkan dengan inti utama atau dapat pula diartikan sebagai tonjolan kecil dekat inti neutrophil. Berdasarkan pada hasil pengamatan, baik pada sampel darah laki-laki maupun perempuan, bagian inti dari masing-masing neutrophilnya menunjukkan adanya tonjolan di dekat inti neutrophil. Akan tetapi, dilihat dari bentuknya, terdapat perbedaan antara sampel darah laki-laki dan perempuan. Menurut Verma (2017), drumstick pada perempuan dideskripsikan sebagai tambahan pada nukleus neutrophil yang dipisahkan dari lobus inti utama. Sementara itu, pada sampel darah laki-laki terdapat suatu bentukan yang bentuknya berbeda dengan yang telah dideskripsikan sebelumnya. Hal ini dapat disimpulkan bahwasanya drumstick hanya terdapat pada perempuan dan tidak demikian dengan laki-laki. Pernyataan tersebut didasarkan pada kenyataan bahwasanya drumstick sebagaimana barr body merupakan seks kromatin. Seks kromatin, sebagaimana telah diketahui hanya di dapati pada perempuan, karena merupakan sisa dari kromsom X yang terinaktivasi. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Brahimi (2011), yang menyatakan bahwasanya konfirmasi kromosom X yang tidak aktif terdapat pada drumstick. Lebih lanjut, Tupakula (2014) menyatakan bahwasanya kromatin seks mencapai 1µ gumpalan kromatin yang biasanya terlihat pada nukleus perempuan pada beberapa jaringan epitelium kornea, mukosa buccal, oral dan epitelium vagina, fibroblast, dan lain sebagainya dan sebagai drumstick pada apusan darah.

Berdasarkan pada pernyataan-pernyataan di atas, jelaslah bahwasanya bentukan pada apusan sel darah putih neutrophil pada sampel darahlaki-laki bukanlah merupakan drumstick. Perlu diketahui bahwasanya menurut Varma (2017), deskripsi asal dari drumstick harus dipisahkan dari bentukan serupa bintil sesil, gada kecil, lobus minor, dan tanda-tanda keseluruhan yang dapat dikenali pada neutrophil laki-laki. Hal ini didasarkan pada alasan bahwasanya bentukan-bentukan yang demikian merupakan kondensasi dari kromosom Y pada laki-laki sebagaimana pernyataan Brahimi (2011), yang menyatakan bahwasanya konfirmasi kromosom Y yang serupa drumstick telah dapat dilakukan dengan hibridisasi flouresen secara in situ.

BAB IV

PENUTUP

 

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan pada uraian-uraian pada bab-bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwasanya :

  1. Penentuan jenis kelamin dapat dilakukan berdasarkan pada ada tidaknya kromatin seks pada bagian inti pada bagian-bagian tertentu pada tubuh. Kromatin seks merupakan hasil kondensasi dari salah satu kromosom X, sehingga dapat diketahui bahwa kromatin seks hanya terdapat pada perempuan.
  2. Ada tidaknya kromatin seks tersebut, dapat diidentifikasi berdasarkan pada ada tidaknya barr body maupun drumstick. Perempuan memiliki barr body maupun drumstick sebagai hasil fdari kondensasi kromosom X yang terinaktivasi, sedangkan pada laki-laki tidak demikian. Bentukan serupa drumstick pada laki-laki merupakan kondensasi dari kromosom Y dan bukan merupakan drumstick sungguhan.

 

5.2. Saran

Praktikum yang akan datang sebaiknya dilakukan pula identifikasi barr body dan drumstick pada hewan mamalia lainnya. Hal ini dimaksudkan sebagai pembanding dari hasil identifikasi pada manusia dan mamalia lainnya sehingga praktikan akan lebih memahami secara mendalam mengenai materi penentuan jenis kelamin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Avner, P. and Heard, E. (2001) X-chromosome inactivation: counting, choice and initiation.           Nat. Rev. Genet. 2,

Brahimi, Mohamed, Affaf Adda, Hassiba Lazreg, Hadjer Beliali, Soufi Osman, dan Mohamed       Amine Bekadja. 2011. Can Sex Be Determined from a Blood Smear ?. Turk. J.          Hermatol. Vol. 30.

Chaligne, Ronan dan Edith Heard. 2014. X-Chromosome Inactivation in Development and            Cancer. FEBS Letter. Vol. 588.

Eboh D. 2012. A dimorphic study of maxillary first molar crown dimensions of Urbohos in            Abraka, South-Southern Nigeria. J Morphol Sci. Vol. 29. No. 2.

Elrod SL, Stansfield WD. 2007. Schaum’s outlines genetika. 4 ed. Indonesia: Penerbit         Erlangga.

Galdames, Ivan Suazo, Alex Flores, Ignacio Roa, Mario Canten, dan Daniela Zavando. 2011.        Sex Determination by Observation of Barr Body in Teeth Subjected to High      Temperatures. Int. J. Morphol. Vol. 29. No. 1.

Meena, Narendra Kumar, Mohan Singh, dan Jaskaran Singh. 2016. A Comparation Study of          Carbol Fuchsin and Papanicolau Staining Methods for The Demonstration and    Enumeration of Barr Bodies in Buccal Smear. International Journal of Applied         Research. Vol. No. 5.

Shihab, M. Q. 2002. Wawasan Al-Quran : Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Permasalahan   Umat. Bandung : Penerbit Mizan.

Suryo. 2011. Genetika Manusia. Yogyakarta : UGM Press.

Syafitri, Kharlina, Elza Auerkari, dan Winoto Suhartono. 2013. Metode Pemeriksaan Jenis             Kelamin Melalui Analisis Histologi dan DNA dalam Identifikasi Odontologi                           Forensik.           Jurnal PDGI. Vol. 62. No. 1.

Tupakula, Sharmila, Subhadra DeviVelichety, Thyagaraju K. Sexual Dimorphism in                        Morphology and Morphomety of Neurophil Drumsticks. International Journal of                  Anatomy and Research. Vol. 2. No. 4.

Verma, Reshmi dan Manjula Adinarayan. 2017. Reability of Neutrophic Nuclear                              Appendages       in Morphological Sex Differentiation. International Journal of                      Medical Science and     Public Health. Vol. 6. No. 4.

 

 

Advertisements